Ini adalah cerita Gandhy dan Hana versi gue yang dikembangkan berdasarkan cerita dari video Fana Merah Jambu oleh Gianni Fajri, dan lirik yang dinyanyikan oleh Fourtwnty. Kompetisi ini diselenggarakan oleh HP Indonesia di halaman Facebook mereka.

Ini adalah cerita tentang Gandhi.

Gandhi memiliki arti matahari. Seorang yang menerangi dunia sekitarnya hingga menjadi terang di antara kegelapan. Seorang memberikan jalan bagi sesamanya melewati kegelapan, membawa kebahagiaan. Tetapi bagi Gandhi Suryadireja, 34 tahun, hidupnya hanyalah kelabu. Penuh dengan pencapaian, namun tidak berarti. Ini adalah cerita tentang Gandhi, Seorang penulis dan illustrator idealis yang hidup sendiri, dan kesepian di selatan Jakarta.
Kesepian sudah menjadi keseharian nya, dan menikmati hari memperhatikan hingar-bingar kehidupan orang lain sembari berkarya sudah menjadi kebiasaannya. Sudah 34 tahun selama hidupnya, ia tidak pernah menemukan arti kata bahagia sesungguhnya. Sudah 41 wanita, 41 cerita, 3 negara yang lewat di kehidupannya, ia berakhir sendiri, sepi, tidak berarti. Paras Gandhi yang rupawan ternyata tidak memberikan kebahagiaan untuknya.

-Halaman Pertama-

Di suatu malam pada akhir pekan, sembari meminum wine di depan teras apartment yang sudah dibelinya berkat kerja kerasnya selama 12 tahun bekerja di advertising agency ternama, Gandhi tertegun gundah. Ia heran, apalagi yang harus ia perbuat untuk menjadi bahagia. Atau, apa yang menyebabkan ia begitu tidak bahagia. Apakah kesendirian? Mungkin, Apakah Kesepian? Bisa Jadi.

Lalu siapa yang bisa menjadi sumber kebahagiaan Gandhi?

Bisa dibilang, Gandhi adalah matahari yang kelabu. Ditutupi awan tebal yang gelap sebelum datangnya hujan.

Tiba-tiba, ia terpikir untuk, keluar dari zona nyaman, keluar dari apartment nya, pergi, menyendiri. Menurutnya ini adalah sebuah pertarungan akan dirinya, dan dirinya.

-Halaman Kedua-

Tepat hari minggu, Gandhi pergi. Pantai selatan Yogyakarta adalah tujuannya. Kereta ekonomi, adalah cara Gandhi pergi kesana. Mungkin perjalanan panjang akan memberikannya waktu untuk berpikir. 12 Jam perjalanan panjang membuatnya sibuk menggambar dengan HP Pavilion X360. Gerbong kereta tua yang sepi membuatnya semangat untuk membuat gambar versi nya sendiri. Apakah itu membuatnya bahagia? Mungkin.

Sesampainya di Pantai, Gandhi pun kembali tertegun. Bingung. Apa lagi? yang dicari, Dimanakah kebahagiaan itu?. Tidak lama, Gandhi pun menggambar pantai. Sore itu pantai selatan sepi sekali. Hening. Hanya suara deburan ombak yang bernyanyi kala itu.

Namun ada seorang perempuan yang menyendiri juga kala itu. Sembari membawa kamera film tua, ia asyik mengabadikan indahnya pantai selatan sore itu.

Ia pun melihat seorang perempuan yang penuh semangat. Senyumnya manis, rupanya ayu, lembut, lucu, sangat memikat.

Gandhi pun memperhatikannya dari jauh, ia pun lanjut menggambar, menangkap momen indah yang digambarkannya saat itu

Tiba-tiba…

“Sendirian aja mas, abis putus cinta ya?” Seorang perempuan tiba-tiba duduk di atas pasir persis di sebelah Gandhi.

Pria di sebelahnya pun terkejut, walaupun tetap hilang semangatnya.

” Enggak kok, lagi bingung aja. ” kata gandhi sembari lesu.

” Bingung kok gambar, mas? Kamu kayaknya bukan dari sini juga ya? ” Kata perempuan itu.

” Iya, gue dari Jakarta, lagi pengen short vacation aja kesini, loh lo dari mana dong?” Gandhi pun penasaran

” Hahaha, aku dari tempat yang penat. Datang ke sini juga untuk melepasnya ” kata perempuan itu dengan tatapan sendu.

” Loh sama dong ya, lalu lo mau kemana lagi setelah menikmati pantai ini? ” Tanya Gandhi

” Aku bingung, gimana kalau kita cobain kuliner di sekitar Jogja? ” Tanya Perempuan itu

” Boleh, yuk! ”

-Halaman 3-

Lalu mereka pun kemudian beranjak, dan mulai menelusuri sisi pantai sembari bercerita.

Paras ayunya perempuan itu membuat Gandhi terpikat. Aromanya, gayanya, senyumnya, sungguh memikat, dan menyegarkan jiwa. Semangatnya sebagai seorang perempuan seketika membuat Gandhi kembali merasakan kebahagiaan. Meski terlihat sementara, namun terasa hangat. Sudah 41 perempuan hadir di kehidupan Gandhi, namun perempuan ini berbeda.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke pasar terdekat dari pantai. Jajan di pinggiran pasar, mencoba makanan-makanan laut khas Jogja, Gudeg, dan sebagainya. Betapa bahagianya Gandhi malam itu, tawa, dan canda keluar malam itu. Sudah setahun sejak Gandhi dekat dengan perempuan. Sudah setahun sejak kepergian Maya, Gandhi tidak pernah tertawa selepas ini.

Memang sudah setahun sejak Maya, gadis ke 40, tunangan Gandhi meninggal dunia sejak kecelakaan hebat yang melibatkan Taksi, dan truk gandeng ketika akan mengukur gaun pengantin yang akan digunakan Maya. Seharusnya Gandhi lah yang mengantar, tapi apa daya, ada meeting dengan potential klien yang tiba-tiba direschedule sehingga Gandhi harus rapat terlebih dahulu. Tragis? Memang.

“Eh aku mau tanya, apa sih yang bikin kamu bingung tadi?” Tanya perempuan itu
“Gue cuma lagi bingung dengan keadaan aja” Kata Gandhi
“Tapi bukannya keadaan yang ada cuma bisa kamu rasakan dan nikmati saja ya? Kalo bingung, bukannya malah kamu jadi ketinggalan ya?” Kata perempuan itu.
“Yaa, memang sih. Akhir-akhir ini emang gue lagi butuh refreshing banget sih.”
“Kadang emang cuma dengan keadaan kita bisa dibikin bingung, kan?” Kata Gandhi
“Iya tapi itu bukan jadi alasan kamu jadi sedih kaya tadi gitu kan?” Kata perempuan itu
“Hahaha emangnya gue sedih ya?” Tanya Gandhi sembari tertawa canggung
“Hahaha aku tau kok kapan orang lagi keliatan sedih walaupun berusaha nutupin” Kata perempuan itu
Tiba-tiba telpon berdering, dan Gandhi pun seketika mengakatnya
“Eh sorry banget nih, bos gue tiba-tiba nelpon”

Sang perempuan itu pun tersenyum ketika Gandhi mengakat telpon itu. Ketika Gandhi selesai dengan urusannya, seketika Gandhi pun sadar kalau perempuan itu pergi menghilang. Gandhi pun tersadar jika rasa bahagia yang dirasakannya itu hanya berlangsung sementara. Ingin Gandhi mencari perempuan itu, namun apa daya, nama pun belum sempat terucap oleh perempuan itu.
Masih dengan kebingungannya, Gandhi pun pergi ke café di seberang pasar, dan kembali melanjutkan kegiatannya. Dibukanya kembali HP Pavilion X360 miliknya, lalu tiba-tiba Gandhi tersenyum sedih sembari mengingat jika laptop itu pemberian Maya. Memang sudah lama Maya pergi, namun walaupun bayang-bayangnya sudah pudar, Gandhi yang malang terjerumus ke dalam arus kesedihan yang mendalam. Entah ini kutuk atau teguran dari Tuhan…

Tiba-Tiba…

“Lo kemana aja sih? Tadi kok malah ngilang?” Tiba-tiba perempuan itu pun muncul di hadapan Gandhi
“Lo nya yang kemana lagian, gue kan di situ-situ aja” kata Gandhi sembari kesal
“Haha aku ke toilet tadi. Kamu sih lagian lagi ‘short vacation’ kok masih kerja aja?” Kata perempuan itu
“Iya nih gue emang lagi fully attached banget dengan kerjaan, jadinya emang suka ditelpon bos ku terus” Kata Gandhi
“Yaudah deh, aku akan traktir kamu kopi di sini, katanya tempat ini terkenal karena kopinya loh” Kata perempuan itu
“Haha, gue bukan Coffee Enthusiast sih, tapi worth to try sih kayaknya. Boleh deh!” Gandhi pun terlihat bersemangat
“Nah gitu dong!, Tapi Kamu harus matiin handphone kamu ya! Kata perempuan itu
“Hahaha iya deeh, tapi laptop gue gak apa-apa ya, gue kan lagi gambar. Pantai yang tadi masih dikit lagi selesai nih.” Kata Gandhi
“Bagus yah gambarmu, enak juga laptopnya bisa dilipet full kayak gitu” Kata perempuan itu
“Eh iya, kita pesen dulu ya! Mas, Mau pesan kopi spesial yang ada di sini yaa!” perempuan itu pun langsung memesan signature coffee dari café itu.
“Lo sudah berapa lama di Jogja?” Tanya Gandhi
“Baru aja hari Senin Sampai. Kamu?” Kata perempuan itu
“Wah barengan dong! gue juga baru sampai di Jogja Senin kemarin!” Kata Gandhi
“Hahaha seru ya, bisa ketemu di sini.” Kata perempuan itu
*Seketika ada alunan lagu dari Fourtwnty – Fana Merah Jambu*
“Eh lagunya bagus ya” Kata Gandhi
“Iya, liriknya ngena banget ya? ? Kata perempuan itu
“Anyway…, gue belum tahu nama lo loh dari tadi. Makanya mau nyariin bingung” Kata Gandhi
“Aku Hana” Kata perempuan itu
“Oh, Hana, nama yang bagus ya. Kalo gak salah artinya harapan ya?” Kata Gandhi
“Hahaha gak tau deh, aku bukan orang yang interest soal arti nama. Lalu nama kamu siapa?” Kata Hana
“Nama gue Gandhi” Kata Gandhi sembari tersenyum.

-Outro-

*Kriing Kriiing* Alarm pun seketika berbunyi, missed call dari HP pun sudah ada 12, Gandhi pun terbangun dari mimpinya. Ia pun membuka pesan Whatsapp dari atasan di kantornya
“Hey, lo kemana aja? Itu ada anak baru yang diinterview si Fadli, lo brief ya langsung, kita Jumat pitching, awas kalo miss lagi!”

Ternyata siang itu adalah hari Senin. Perjalanannya itu hanya mimpi. Sekali lagi, kebahagiaan yang fana kembali dialami Gandhi malam itu.
Gandhi seketika merasa sepi. Ternyata ia meminum Wine hingga mabuk, dan terbangun hingga senin. Walaupun lemas bukan kepalang, Gandhi cuek dan langsung bersiap.
Gandhi yang baru saja selesai bersiap seketika tertegun melihat kondisinya, dan apartmentnya itu. Apartment yang dibeli seharusnya untuk dia dan mantan calon istrinya Maya, sudah mulai tidak terawat. Ia tersadar jika hal yang dia cari selama ini, hanyalah kebahagiaan yang fana, sementara, tidak kekal, dan mudah hancur.
Gundahnya Gandhi siang itu, langsung menjalani kesehariannya, bekerja, Seketika sampai di ruangannya, Gandhi langsung menyalami karyawannya yang baru
“Eh sorry ya gue telat, tadi ada urusan sebentar out of office” Kata Gandhi
“Oh, I..Iya tidak apa-apa pak” perempuan itu pun langsung menjawab dengan gugup
“Loh… lo kan?” Mata Gandhi terbelalak dan terdiam.
“Perkenalkan, pak, saya Hana. Copywriter yang baru”

-END-

Notes from the Author.

Ini adalah kisah seorang Gandhi yang mencari kebahagiaan setelah mengalami kehilangan. Setelah apa yang dia alami, dia pun tersadar jika kebahagiaan adalah hal yang fana. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Maka tidak ada yang bisa mencari kebahagiaan, melainkan hanya bisa menikmatinya. Memang ini adalah cerita fiktif, tetapi menurut gue sendiri akan seru jika bisa terjadi. Walaupun di cerita tersebut, Gandhi pada akhirnya tetap bertemu Hana, namun apakah Hana yang memiliki rupa yang sama itu, memiliki sifat yang sama? Memang masih banyak kemungkinan yang terbuka dari cerita ini.
Sedangkan nama Hana yang menurut kamus berarti Bunga / Harapan / Kebahagiaan, adalah contoh kebahagiaan menurut gambaran seorang Gandhi. gue menulis ini untuk menggabungkan cerita cinta dengan perumpamaan. Sama seperti pemahaman gue dengan lagu ciptaan Fourtwnty – Fana Merah Jambu yaitu cinta yang fana. Hanya bisa dinikmati, namun tidak bisa dicari.
Semoga cerita ini memuaskan, kalau menang syukur. Lumayan laptop baru.

Terima Kasih.

Update:

Kebetulan menang, ini hadiahnya. Terima kasih HP Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *